Saturday, May 17, 2014

Titian rasa

Ragaku terdiam disaat hati dan pikiranku jauh meninggalkanku, mengembara dalam alam sadar mencari tentang hakikat makna tersirat dari rasa tubuh yang terbatas dalam rasa.
Dia kembali dengan seulas senyum penuh arti dalam konsep rasa yang berbeda namun Dia bercerita dalam
keadaan berbeda dengan alunan irama yang sama namun raga ragu dalam memaknai hakikat itu karena rasa hanya sebatas rasa dan akal hanya bisa memaknai buah dari rasa bukan pada keadaan rasa...

Sunday, May 19, 2013

Rahasia dalam rasa

Dia datang dalam bentuk berjuta rasa seakan setiap rasa muncul dalam tiap bingkai rasa. 
Berkumpul dalam sebuah wadah, sehingga ruang sesak berhimpit dalam berjuta rasa, 
andai rasa itu tidak be-ruang mungkin rasa itu terbang bersama berjuta keindahan rasa seakan mengikuti kehendak rasa namun terkekang olah rasa ketiadaan berkecamuk hingga hilang dalam kematian rasa dalam wadah yang mengingat...diam...diam...tenang....

Syukur dalam kesyukuran


Kunikmati...
rasa dalam gelak tawa ke-ingkar-an kunikmati...
Rasa dalam kedustaan panjang
terhempas pada titik kemusyrikan. 

terbawa dalam buaian dunia rasa namun rasa kunikmati tak pernah kucerna, tak pernah kutelaah rasa asal berasa semua terbawa hilang dalam gelap ketiadaan

nikmat rasa dalam belaian lembut sang khalid mengalir dalam rasa tubuh kepedihan yang mengikis luka rasa tertinggal dalam kotornya nikmat rasa terabaikan...
terperangah dalam nikmat yang tak mampu kurasa hingga rasa itu mampu mengembalikan rasa yang tak pernah kurasa....andai  nikmat rasa itu hadir dalam rasa tentu aku mampu menikmati rasa itu dalam rasa yang tak berasa...
Indahnya rasa dalam makna rasa yang hakiki...
karena rasa adalah kegaiban yang dimaknai secara dzahir

Ibadahku...

Kusaksikan Indahnya keberadaan dalam gerak tubuh yang mengalir dalam ritme dan lantunan syair terindah mewakili irama hati dalam meniti setiap syair gerak raga yang tercermin dalam sosok akhlak budi pekerti yang menjadi buah dari pohon pemahaman hakiki yang berakar pada syariat menjalar menafkahi setiap gerak keikhlasan
waktu seakan berhenti tanpa pamrih, semua begitu lambat dalam pelukannya membawaku hanyut dalam irama waktu yang merambat penuh hikmah tiada ilmu hasil dari olah akal menggumuli otak yang bersinggasana dalam kepala, gerakan merajut dalam kepasrahan dituntun untaian tali kasih perjalanan sang pencari dalam menemukan titik terang dalam diam.
Terulang dalam gerakan dan rasa namun tak mampu menembus hakikat rasa tercipta, mengalir dengan perlahan dalam ketidaksadaran dalam sadar.
Bersimpuh dan bersujud teriring indahnya pujian menggelayut diujung lidah memuji dengan pujian maha terpuji